Seni Rupa Nusantara

Ada banyak sekali jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara (daerah setempat).
Benda-benda yang diberi motif hias, biasanya berupa ukiran kayu, senjata tradisional, dan benda-benda lain.

Banyak sekali ukir-ukiran yang terdapat di daerah Nusantara ini. Hampir tiap daerah memiliki ragam (motif) hias ukiran, terutama ukiran kayu. Misalnya ukir-ukiran daerah Jawa, Bali, Kalimantan, dan Papua terkenal sangat kaya dan indah motifnya. Demikian juga ragam/motif hias yang terdapat pada ukiran. Banyak ukiran yang terinspirasi motif alam. Misalnya, ragam/motif hias yang terdapat pada berbagai alat musik daerah yang terbuat dari bahan kayu.

Berbagai ragam hias.motif hias pada berbagai seni hias seni rupa Nusantara, misalnya:

1)     Ragam hias pada gambang Jawa terdiri dari objek tumbuhan dan hewan.

2)     Ragam hias gender Bali terdiri dari objek unsur gaib dan tumbuhan.

3)     Ragam hias tifa Papua memiliki objek tumbuhan, hewan, dan orang.

Senjata daerah Nusantara yang sangat beragam juga merupakan karya seni rupa. Senjata daerah sering digunakan sebagai pelengkap dalam pakaian daerah juga dalam tarian.

Mengenal Wayang Kulit

ihier-ihier sekarang kita akan melangkah ke Wayang Kulit…

Wieh keren nieh,…
salah satu kekayaan kebudayaan yang mulai pudar.

Yuk mari kita pelajari bareng-bareng awal mula keberadaan terciptanya Wayang ini,.

SEJARAH

Pada mulanya, bentuk wayang merupakan penggambaran tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita Ramayana dan Mahabarata. Gambar dibuat berupa adegan beberapa tokoh di atas lontar atau kertas yang disebut wayang beber. Kemudian, sekitar abad ke-15, Sunan Kalijaga, salah seorang dari Wali Sanga menciptakan wayang kulit sebagai sarana dakwah penyiaran agama Islam.

Pembuatan wayang kulit terus disempurnakan dengan teknik tatah sungging yang sangat halus. Setiap wayang merupakan simbol dari karakter tokoh dalam cerita, terutama cerita Mahabarata dan Ramayana yang disesuaikan dengan ragam budaya Nusantara. Karakter tokoh yang dibuat pun semakin beraneka ragam yang terbagi menjadi tokoh baik dan jahat. Selain merupakan gambaran karakter tokoh dalam cerita, pada wayang juga terdapat ragam-ragam hias. Contohnya adalah ragam hias pohon hayat pada gunungan, untuk menggambarkan keadaan lingkungan.

Selain itu, juga terdapat ragam hias motif kedok, tumpal, dan sulur-suluran yang terdapat pada gelung, makutha, sumping, dan hiasan lengan.

 CARA PEMBUATAN :

Untuk membuat wayang kulit, diperlukan keterampilan menatah dan menyungging (menggambar). Adapun proses pembuatan-nya, meliputi memasak kulit, menatah, dan menyungging.

  1. Memasak kulit dimulai dengan menanggalkan bulu. Kulit yang akan ditanggalkan bulunya direndam semalam. Paginya rendaman diambil untuk dijemur dengan dibentangkan dan diikat pada sebuah gawang kayu. Bagian tepi kulit dilubangi, lalu direntangkan kuat-kuat dengan tali pengikat. Setelah kering, kulit dikerok dengan kapak di sisi luar (dibersihkan bulunya) dan sisi dalam (dibersihkan dari daging-daging yang masih melekat). Apabila kulit telah halus dan cukup ketebalannya, lalu dibersihkan lagi dengan ampelas sampai halus. Kulit masih perlu dijemur untuk kedua kalinya sampai tampak putih mengkilap seperti kaca.
  2. Setelah dimasak, maka kulit pun siap untuk ditatah. Mula-mula dibuat salinan wayang yang dikehendaki. Wayang jadi diletakkan di atas kulit dan ditindih dengan logam penindih agar tidak bergeser. Kemudian, dibuat coretan di bagian pinggir dan bagian-bagian yang penting secara garis besar. Bagian pinggir salinan wayang lalu ditatah agar terlepas dari kulit bahan, dan jadilah gatra wayang (gebingan).
  3. Corekan pada wayang gebingan diperajam untuk mempersiapkan proses menatah secara lebih teliti. Bagian demi bagian ditatah dengan hati-hati, menggunakan tatah yang sesuai.
  4. Proses pembuatan wayang selanjutnya adalah menyungging, yaitu memberi warna lukisan pada tatahan wayang. Untuk menyungging, dibutuhkan campuran ancur, air londho, dan pewarna yang dibuat secara khusus. Bahan tersebut dapat dibeli di toko obat Cina, di toko jamu, atau di toko bahan kimia. Pewarna putih dibuat dari tulang bakar, pewarna kuning dibuat dari batu atal, pewarna biru dibuat dari nila, pewarna hitam dibuat dari hoyan (langes, kukus lampu), dan pewarna merah diperoleh dengan mencampur warna-warna baku, seperti putih, hitam, kuning, biru, dan merah.Proses menyungging dimulai dengan membuat warna dasar. Setelah kulit diampelas sampai halus, lalu disapukan pewarna putih tipis dan merata. Selanjutnya, diberikan warna-warna hitam, perada (warna emas), jambon, kuning, hijau muda, biru, jingga, dan ungu secara berturut-turut di tempat yang sesuai. Selain diberi warna, bagian-bagian tertentu juga dihias dengan garis-garis halus (cawi), dengan titik-titik halus (drenjeman), dengan titik-titik atau garis untuk membedakan bentuk  (waler), dengan warna dasar kuning dan perada (perada gemblengan).Proses menyungging diakhiri dengan pekerjaan membabar, yaitu membubuhkan cairan ancur pada seluruh bagian wayang, kecuali bagian yang diperada. Tangkai wayang kulit dibuat dari bahan tanduk kerbau.

Demikian lah penjabaran tentang Wayang,…
silakan koment,… saya tunggu :)….

Mengenal Kain Songket Indonesia

Setelah kita mempelajari tentang kain batik mari kita belajar lagi dan lebih mengenal kain songket

Tenunan dengan corak hiasan yang dibuat dengan cara ikat lungsi di Indonesia dikenal sejak zaman prasejarah. Daerah yang paling awal menguasai teknik menenun, antara lain pedalaman Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Kemampuan membuat alat tenun, menciptakan desain dengan mengikat bagian-bagian tertentu dari benang, dan pencelupan warna telah mereka kuasai sejak zaman perunggu.

Motif yang diciptakan dalam kain tenun mencerminkan unsur-unsur yang erat hubungannya dengan tema kepercayaan, pemujaan leluhur, dan memuja keagungan alam. Teknik pembuatan tenun baru berkembang setelah datangnya para pedagang Islam dari India dan Arab. Para pedagang membawa bahan-bahan baru untuk membuat tenun berupa benang sutra dan benang emas.

Daerah di pesisir yang merupakan tempat perdagangan strategis segera terpengaruh oleh kebudayaan baru tersebut. Untuk mengurangi katergantungan terhadap impor sutra, pada abad ke-15 di daerah Palembang mulai ditanam pohon murbei untuk memelihara ulat sutra. Pemeliharaan ulat sutra juga dilakukan di daerah Sulawesi.

Kemudian, digunakan juga teknik baru dengan menambahkan pakan pada dasar kain yang dikenal dengan teknik songket. Songket adalah cara memberikan hiasan dengan benang tambahan melalui cara menyungkit atau menjungkit benang lungsi. Cara membuat motif dengan menghitung komposisi tingkat-tingkat benang dalam bentuk susunan menyerupai bentuk piramida. Perhatikan contoh cara menyisipkan pakan tambahan pada kain tenun dari daerah Sulawesi di bawah ini!

>> Pola pembuatan kain songket dari Sulawesi dengan menyisipkan         pakan tambahan yang membentuk motif-motif piramida.

Baca lebih lanjut

Mengenal Motif Batik

Selama ini kita telah mengetahui bahwa batik merupkan budaya kekayaan indonesia yang telah diakui oleh negara-negara dunia.

Nah karena itu marilah kita sama-sama mempelajari ragam hias kain batik  di indonesia,
langsung ke TKP gan,….

Ragam hias batik yang ada di indonesia banyak menggunakan tema lingkungan hidup. Objeknya berupa bentuk-bentuk nongeometris dan bentuk-bentuk geometris.

                 Ragam hias nongeometris adalah ragam hias yang tidak terkait oleh bentuk-bentuk ilmu ukur. Kebanyakan berupa hasil stilisasi atau penyederhanaan bentuk-bentuk di alam. Ragam hias nongeometris yang terdapat pada kain batik, antara lain berupa ragam hias sulur-suluran, semen, dan bentuk-bentuk hewan. Ragam hias sulur-suluran yang terdapat pada kain batik termasuk jenis lung-lungan, seperi motif lung peniti, lung pakis, dan lung klewer.

                 Ragam hias geometris yang banyak terdapat pada kain batik adalah bentuk tumpal pilin berganda, dan pola kertas tempel. Ragam hias tumpal berupa bentuk segitiga sama kaki atau segitiga sama kaki yang berderet.

                 Di dalam segitiga, biasanya diberi hiasan. Ragam hias pilin berganda dalam kain batik disebut motif parang, misalnya parang rusak, parang barong, parang klitik, dan parang gendreh. Dahulu, corak batik parang merupakan pakaian khusus untuk keluarga raja. Contoh kain batik yang bermotif kertas adalah corak jlamprang.

yang seperti ini….

namanya:

Kain batik ragam jlamprang.

 

 

yang seperti ini….

namanya:

Klowongan sidomukti

 

 

 

 

 

 

 

yang seperti ini….

namanya:

Corak sidomukti dengan corekan lengkap.

 

 

 

 

 

itulah beberapa jenis batik-batik yang ada di indonesia….

🙂 Tapi tentunnya masih ada banyak lagi yang lain,…
cuma sedikit sich contoh-contohnya tapi moga manfaat y gan,…. mantap

Mengedit Foto

Baru- baru ini saya telah mengotak ngatik yang namanya sofware Photo Shop dan corel draw.
dan telah saya pelajari ternyata jika kita mau berkreasi maka mudahlah hal itu…

 


      

 

 

 

 

Sebelum Baca lebih lanjut